Menu


Profesor BRIN Thomas Klaim Ingin Mempersatukan Umat, Alpha Amirrachman: Faktanya Dia Menggiring Perdebatan

Profesor BRIN Thomas Klaim Ingin Mempersatukan Umat, Alpha Amirrachman: Faktanya Dia Menggiring Perdebatan

Kredit Foto: Suara.com/Pebriansyah Ariefana

Konten Jatim, Jakarta -

Wakil Ketua Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Alpha Amirrachman menanggapi terkait permintaan maaf dari profesor BRIN Thomas Djamaluddin sembari membubuhkan pernyataan ingin "mempersatukan".

Kata Alpha, pernyataan maaf dengan bubuhan ingin mempersatukan umat tersebut justru bertolak belakang dengan sikap Thomas Djamaluddin selama ini.

"Saya tidak percaya Thomas Djamaluddin punya itikad baik 'mempersatukan' umat, faktanya sudah lebih dari satu dekade dia menebar kebencian kepada Muhammadiyah, menggiring perdebatan yang menjurus pada perpecahan umat dengan mengecam metode hisab penentuan Hari Raya secara sangat partisan. Baru-baru ini dia bahkan menuduh Muhammadiyah tidak taat pemerintah dan mengecam penggunaan fasilitas umum untuk beribadah. Faktanya pemerintah mempersilakan perbedaan Hari Raya, bahkan yang berbeda bukan hanya Muhammadiyah," tulis Alpha, melalui akun twitternya, @AlphaARachman, dikutip Rabu (26/4/2023).

Baca Juga: Pimpinan Komisi III Dukung Polri Segera Periksa AP Hasanuddin: Tak Ada Maklum dengan Sikap Intoleransi Peneliti BRIN!

Warga Muhammadiyah, lanjut Alpha, juga pembayar pajak, artinya berhak menggunakan fasilitas umum seperti umat yang lain. "Antiklimaks, anak buahnya sendiri AP Hasanuddin mengancam pembunuhan warga Muhammadiyah dengan narasi yang brutal sebagai reaksi pembelaan terhadap statement provokatif Thomas Djamaluddin," lanjutnya.

Dia pun membeberkan bahwa kekerasan sektarian di berbagai tempat di dunia dimulai dengan retorika "pelenyapan" alias "pembunuhan" kelompok lain yang dianggap berbeda. Retorika ini terus tumbuh dan menjelma menjadi kekerasan berdarah yang sesungguhnya.

"Kita lihat apa yang sekarang terjadi di India dalam bentuk kekerasan terhadap umat Muslim dan Kristiani oleh ekstrimis Hindu, juga kasus pembantaian 800.000 suku Tutsi dan Hutu moderat oleh ekstremis Hutu di Rwanda, pembantaian terhadap lebih dari 8.000 lelaki dan remaja etnis Muslim Bosniak selama perang Bosnia, peristiwa Holocoust alias pembunuhan massal enam juta kaum Yahudi oleh Nazi Jerman, kekerasan hingga pembunuhan warga Palestina oleh Zionis Israel — semua dimulai dengan retorika 'pelenyapan' kelompok tertentu oleh kelompok lain yang menganggap paling benar, paling berhak, dan paling superior," urai peraih gelar Ph.D dari Universiteit Van Amsterdam ini.

Dia pun menyarankan agar harus waspada karena masyarakat punya potensi sangat mudah tersulut, bahkan kata "amok" (amarah yg tidak terkendali) berasal dari Bahasa Melayu yg juga Bahasa Indonesia.

Dengan demikian, "amok masa" alias "pengeroyokan" dan diikuti "pengganyangan" sangat dekat dengan psikologi massa masyarakat kita. Mulai dari pengeroyokan bahkan penghakiman massa terhadap orang yang belum tentu bersalah hingga pengganyangan karena perbedaan politik bahkan agama (baik internal ataupun eksternal umat tertentu) adalah hal yang laten tinggal menunggu api pemantik saja.

Baca Juga: DPR Desak Jokowi Segera Evaluasi BRIN Buntut Ancaman AP Hasanuddin

"Karena itu jika tidak diambil tindakan hukum yang tegas terhadap dua orang ini — Thomas Djamaluddin dan AP Hasanuddin — bisa menjadi preseden yang membahayakan karena nantinya diksi "bunuh" atau bahkan "ganyang" terhadap kelompok lain yg berbeda bisa menjadi mudah terlontar dari mulut para elit intelektual bahkan elit politik kita, siap membakar emosi para pendukungnya di akar rumput. Mengerikan," tutupnya.

Khazanah Islam: Pujian untuk Ambisi Berkelanjutan, Warta Ekonomi Gelar Indonesia Most Visionary Companies Awards 2024

Artikel ini merupakan kerja sama sindikasi konten antara Konten Jatim dengan Fajar.