Bagaimana peluang koalisi besar bisa terwujud? Sebab, masing-masing koalisi punya ego besar. Pasalnya, masing-masing ketua umum pasti mau yang dicalonkan sebagai calon presiden maupun calon wakil presiden (capres-cawapres).
“Khususnya Partai Gerindra dengan Prabowonya, Airlangga dengan Golkarnya yang saranya besar, dan jangan lupa Muhaimin Iskandar yang masih ngebet. Egonya besar,” ungkap Direktur Eksekutif Indonesia Political Review (IPR) Ujang Komarudin kepada Rakyat Merdeka, kemarin.
Baca Juga: Pengamat: Koalisi Besar Jadi Upaya Jokowi Dalam Hilangkan Pengaruh Megawati
Oleh karena itu, mau tak mau harus ada king maker-nya. Maka satu-satunya jalan, para ketua umum partai legowo menyerahkan kepada Jokowi untuk menentukan pasangan capres-cawapres. “Memang harus Jokowi yang menentukan. Dia endorse koalisi sekaligus capres dan cawapres,” ungkapnya.
Menurutnya, koalisi besar ini untuk menghadapi Koalisi Perubahan yang mengusung capres Anies Baswedan. Selain itu, juga sebagai sinyal kepada PDI Perjuangan yang hingga kini belum juga menentukan koalisi apalagi capres untuk Pilpres 2024.
“Kemarin kan PDI Perjuangan tidak hadir. Mungkin sinyal tak mau gabung karena memang bisa sendiri. Jadi gerbong besar ini untuk melawan NasDem Cs dan mungkin PDI Perjuangan,” tambahnya.
Lantas siapa, capres dan cawapres yang paling berpeluang diusung koalisi besar ini? Kata Ujang, jelas Jokowi akan mengajukan nama Prabowo Subianto sebagai capres. Salah satu pertimbangannya, Prabowo memiliki elektabilitas paling tinggi.
“Cawapresnya siapa? Bisa ketua umum yang lainnya. Tetapi juga bisa dorong tokoh eksternal yang popularitasnya sedang tinggi. Supaya tidak ada iri antar ketum partai,” tuturnya.
Sebelumnya, Jokowi menggelar pertemuan dengan dua poros koalisi yakni Koalisi Kebangkitan Indonesia Raya (KKIR) dan Koalisi Indonesia Bersatu (KIB). Pertemuan dihadiri pemimpin partai koalisi yakni Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto, Ketua Umum Golkar Airlangga Hartarto, Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar, Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan, dan Plt Ketua Umum PPP Muhammad Mardiono di Kantor DPP PAN, di Jakarta Selatan (Jaksel), Minggu (2/4).
Sementara itu, Wakil Ketua Umum PKB, Jazilul Fawaid merasa belum ada kepentingan membentuk koalisi besar. Dia menegaskan, sejauh ini PKB masih komitmen membangun koalisi dengan Gerindra lewat Koalisi Kebangkitan Indonesia Raya. “Sampai saat ini PKB masih komitmen dengan piagam yang ditandatangani bersama Gerindra,” tutur pria yang akrab disapa Gus Jazil ini.
Sedangkan PPP menilai, pembentukan koalisi besar tergantung peta politik di lapangan. Kondisi saat ini masih dinamis. “Pertemuan biasa untuk perbaikan demokrasi ke depan. Apakah KIB dan KKIR melebur, nanti kita lihat perkembangan,” sebut Ketua DPP PPP, Achmad Baidowi.
Serupa, Ketua DPP Partai Golkar, Dave Akbarshah Fikarno Laksono menegaskan, partainya sampai saat ini menjagokan Airlangga sebagai capres 2024. Airlangga lah yang akan disodorkan sebagai capres baik di KIB maupun koalisi besar. “Golkar memang secara institusi dan tegas sudah putuskan capresnya Pak Airlangga Hartarto,” ungkap Dave dalam pesannya.
Dalam pertemuan, Jokowi menegaskan keputusan akhir ada di tangan ketua umum partai politik. “Saya hanya bilang cocok. Terserah kepada ketua-ketua partai atau gabungan ketua partai,” kata Jokowi.
Khazanah Islam: Pujian untuk Ambisi Berkelanjutan, Warta Ekonomi Gelar Indonesia Most Visionary Companies Awards 2024