Menu


Ustadz Abdul Somad Jelaskan Kenapa Perdebatan Penetapan Tanggal Lebaran Selalu Ada di Indonesia

Ustadz Abdul Somad Jelaskan Kenapa Perdebatan Penetapan Tanggal Lebaran Selalu Ada di Indonesia

Kredit Foto: Instagram/Ustadz Abdul Somad

Konten Jatim, Depok -

Perdebatan antara Muhammadiyah dan pihak pemerintah atau Nahdlatul Ulama (NU) mengenai kapan dimulainya bulan Ramadan dan kapal hari Idulfitri dilangsungkan hampir selalu ada dari tahun ke tahun.

Umat Islam di Indonesia sudah tahu kalau umumnya, masyarakat Muhammadiyah mengawali puasa lebih dahulu ketimbang pemerintah sehingga merayakan Idulfitri lebih cepat pula. Namun, dampaknya adalah perbedaan tanggal yang terkadang menimbulkan perdebatan.

Dari sebuah ceramah yang diunggah ke YouTube, disadur pada Rabu (19/4/2023), Ustadz Abdul Somad menceritakan pendapatnya terkait kenapa perdebatan baik itu tanggal mulai puasa atau tanggal Idulfitri selalu berlangsung.

Baca Juga: Pesan Ustadz Abdul Somad: Tidak Perlu Takut Berada di Tanah Rantau, Ada Allah yang Melindungi

“Karena pelaksanaan sidang isbatnya selalu diekspos. Semua bisa tonton, jadi timbul perdebatan,” kata Ustadz Abdul Somad.

Dirinya mengatakan kalau andai saja sidang isbat untuk menentukan bulan Ramadan dan bulan Syawal dilakukan secara tertutup, maka perdebatan seperti ini seharusnya tidak akan terjadi karena sudah disepakati bersama.

“Sidang isbat di ruang tertutup, mau itu kelahi antara NU dan Muhammadiyah ya silahkan asalkan suara yang keluar tetap satu,” lanjut Ustadz Abdul Somad.

Lebih lanjut, Ustadz Abdul Somad mengungkapkan kalau di Mesir, para pemuka agama selain mengadakan sidang isbat secara tertutup, juga kerap menggabungkan metode rukyat dan hisab untuk menentukan tanggal puasa dan tanggal lebaran sehingga lebih adil.

Baca Juga: Cara Mengqashar Salat yang Benar Menurut Ustadz Abdul Somad

“Kalaupun ada isu seperti arisan, misalnya untuk tahun ini Muhammadiyah, tahun depan NU, yang jelas bisa mempersatukan,” kata Ustadz Abdul Somad.

Dan di sini, Ustadz Abdul Somad juga berpesan untuk mempercayai fatwa yang lebih dipercaya dari orang tersebut. Hal ini disebabkan karena baik itu fatwa NU, fatwa Muhammadiyah atau fatwa lain pada dasarnya itu sama benarnya.

Baca Juga: Memahami Hakikat Ramadhan dalam Diri Sendiri Menurut Ustadz Abdul Somad