Menu


Menjauhi Maksiat atau Berbuat Taat Lebih Dahulu? Ini Penjelasan Ustadz Abdul Somad

Menjauhi Maksiat atau Berbuat Taat Lebih Dahulu? Ini Penjelasan Ustadz Abdul Somad

Kredit Foto: Unsplash/Milada Vigerova

Konten Jatim, Jakarta -

Dalam salah satu tausiahnya, Ustadz Abdul Somad (UAS) menjelaskan apa yang diutamakan meninggalkan perbuatan maksiat atau melakakukan taat? 

UAS melanjutkan, meninggalkan perbuatan maksiat itu adalah bagian dari sabar dan melakukan taat juga adalah sabar.

Baca Juga: Bagaimana Cara Mendekatkan Diri kepada Allah? Ini Penjelasan Ustadz Abdul Somad

"Bisa puasa berarti sabar, bisa zakat sabar, mampu wakaf berarti sabar banyak zikir juga sabar. Melakukan ketaatan dengan meninggalkan maksiat mana yang lebih utama? Lebih utama meninggalkan maksiat daripada melakukan ketaatan,"

Mengapa demikian? UAS menjelaskan, karena ketika melakukan ketaatan semua orang bisa. Contohnya shalat dhuha bahkan anak kecil bisa, baca Alquran siapaun bisa, berzikir semua manusia bisa. Namun meninggalkan maksiat tidak semua orang bisa. 

"Saya bisa tinggalkan maksiat. Karena belum dapat kesempatan," tambah UAS.  

Kata UAS, ucapan tersebut bukan dari orang yang biasa-biasa saja, melainkan dari ilham dan pengalaman yang luar biasa dan perenungan dalam hidup.

"UAS, kami pernah datang ke kepala dinas, kami tahu anaknya di Australia perlu dolar banyak, kami ingin menang tender kemudian bawa duit satu koper 'nih pak semoga kalau ada proyek nanti kami menang' kata dia 'bawa uang ini pulang, saya tidak mau kasih makan anaj-istri haram'" cerita UAS, memberi contoh bagaimana seseorang menjauhi maksiat. 

Berapa banyak orang dapat kesempatan, punya jabatan, kekuasaan, banyak harta. Berapa banyak orang kaya jadi imam dan khatib, ujar UAS. 

"Ketika sudah datang kesempatan itu, menolak maksiat jauh lebih utama daripada berbuat ketaatan, tapi jangan gara-gara ini enggak shalat, enggak tahajud, enggak puasa," pungkas UAS.